Monday, 17 May 2010

Melatih Kekuatan Memilih

"Trouble is a friend." - Lenka

Sahabat, setiap kita saat ini adalah hasil dari keputusan dan tindakan kita di masa lalu. Tindakan dan keputusan kita bertahun yang lalu, punya peran membentuk diri kita saat ini. Keputusan dan tindakan kita kemarin, telah menjadikan kita sebagaimana kita yang hari ini.

Maka sahabat, setiap keputusan dan tindakan kita hari ini, akan menentukan bagaimana kita di masa depan. Jika kita menginginkan kebaikan terjadi pada diri kita di hari esok, maka segala keputusan dan tindakan kita hari ini, juga harus menjadi keputusan dan tindakan yang baik-baik.

Keputusan dan tindakan yang baik, adalah keputusan dan tindakan yang sangat jelas memberi sinyal tentang arah di dalam rute yang benar menuju kepada kebaikan kita di masa depan. Keputusan dan tindakan yang baik adalah bukan yang berbelok arah, dan bukan pula yang berbalik arah dari rute itu.

Kita sering sekali merasakan kesulitan untuk meyakini tingkat kebaikan yang tepat terkait dengan keputusan yang kita ambil dan tindakan yang kita lakukan.

"Apakah keputusan yang saya ambil ini sudah baik dan tepat?"
"Apakah tindakan yang akan saya lakukan ini sudah baik dan tepat?"

Perasaan seperti itu bisa berakibat buruk pada kestabilan diri dan menciptakan keraguan serta kegamangan. Akibatnya, perjalanan kita menuju kepada kebaikan akan kita rasakan sebagai langkah-langkah yang terseok dan rapuh. Diri, pikiran, dan perasaan kita juga akan menjadi lebih rapuh, menjadi lebih rentan di hadapan badai kehidupan.

Itu sebabnya sahabat, kita memerlukan keyakinan yang lebih kuat di dalam mengambil keputusan dan melakukan tindakan. Hanya dengan ini, maka mata dan hati kita juga hanya akan tertuju ke depan. Dan tentunya, keadaan ini akan membuat kita bisa memudahkan jalan menuju kepada kebaikan yang kita cita-citakan.

Keyakinan, sering kita anggap sebagai sesuatu yang sulit kita capai tingkatan idealnya. Ini ada benarnya, sebab keyakinan adalah tiang penyangga yang kekuatannya tidak datang begitu saja. Kekuatan keyakinan, adalah kekuatan yang harus kita bangun setiap saat, setiap hari.

"Apakah keputusan yang saya ambil ini sudah baik dan tepat?"
"Apakah tindakan yang akan saya lakukan ini sudah baik dan tepat?"

adalah

"Apakah saya yakin bahwa keputusan yang saya ambil ini sudah baik dan tepat?"
"Apakah saya yakin tindakan yang akan saya lakukan ini sudah baik dan tepat?"

Dan sungguh sahabat, Tuhan begitu menyayangi kita dengan menganugerahkan sebuah kemampuan yang memang sesuai dengan kesanggupan setiap manusia. Dengan kemampuan itu, setiap kita telah diciptakan untuk mampu membangun keyakinan. Kemampuan itu, adalah kemampuan untuk MEMILIH.

HAL TERPENTING DI BALIK SETIAP KEPUTUSAN DAN TINDAKAN

Hal terpenting di balik setiap keputusan dan tindakan, adalah PILIHAN. Dengan kata lain, setiap keputusan dan tindakan adalah identik dengan PILIHAN. Dan kita sama mengetahui, bahwa setiap penyimpangan, kemunduran, atau terhentinya perjalanan menuju kepada kebaikan, hanya disebabkan oleh kegagalan dalam mengambil keputusan dan dalam melakukan tindakan. Maka sesungguhnya, kegagalan itu adalah kegagalan di dalam menetapkan PILIHAN.

Dengan kata lain sahabat, berhasil atau tidaknya kita mencapai tujuan dan cita-cita kebaikan, adalah ditentukan oleh besarnya kekuatan dari PILIHAN yang kita tetapkan.

PILIHAN itu sendiri adalah fenomena obyektif yang dihamparkan di hadapan kita setiap saat, setiap waktu. Dengan obyektifitasnya itu, maka PILIHAN adalah sesuatu yang netral dan apa adanya. Dalam pada itu, segala pilihan kebaikan yang kita tetapkan sebagai tujuan di dalam kehidupan, adalah sesuatu yang amat subyektif sifatnya, di mana untuk menuju kepada kebaikan ada begitu banyak pintu-pintu kebaikan. Apa yang perlu kita tempuh dengan demikian, adalah menjadikan diri kita sebagai pribadi-pribadi yang mempunyai kekuatan di dalam MEMILIH.

BERDIRI ATAU JATUH DI HADAPAN PILIHAN

Setiap kali kita dihadapkan pada PILIHAN, maka pada ketika itu SESUNGGUHNYALAH fungsi kemanusiaan kita sedang berada di titik PUNCAKNYA. Ketika kita berada di tengah masalah, kita berada di tengah hutan rimba PILIHAN. Segala hal yang berkecamuk di dalam pikiran dan perasaan kita, adalah hamburan-hamburan PILIHAN. Ketika itulah, kekuatan kita di dalam menetapkan PILIHAN menjadi sangat berperan.

Pada ketika itu, inilah yang berlangsung dan terjadi pada diri kita sebagai normalnya manusia:

1. Kita sebenarnya TEGAK BERDIRI sebagai manusia dengan keaktifan PERASAAN di titik puncak.

2. Kita sebenarnya TEGAK BERDIRI sebagai manusia dengan keaktifan PIKIRAN di titik puncak.

Hanya PERASAAN yang mendominasi lebih dari proporsinyalah, yang membuat kita TERJATUH ke dalam PILIHAN yang impulsif, kompulsif, atau obsesif, yang akan menjadi sebab bagi penyesalan kita di kemudian hari. Penyesalan yang terjadi karena gagalnya upaya untuk tetap mengarah kepada kebaikan. Penyesalan yang terjadi akibat pengambilan keputusan yang berujung pada tindakan yang justru mensabotase kebaikan. Kita sering menyebut hal ini sebagai keputusan dan tindakan yang kurang menggunakan AKAL SEHAT.

Hanya PIKIRAN yang mendominasi lebih dari proporsinyalah, yang membuat kita TERJATUH ke dalam PILIHAN yang rigid alias kaku dan berdarah dingin, yang juga akan menjadi sebab bagi penyesalan kita di kemudian hari. Penyesalan yang juga terjadi karena gagalnya upaya untuk tetap mengarah kepada kebaikan. Penyesalan yang terjadi akibat pengambilan keputusan yang berujung pada tindakan yang justru juga mensabotase kebaikan. Kita sering menyebut hal ini sebagai keputusan dan tindakan yang KURANG BERPERASAAN.

Lebih dari itu sahabat, hanya PERASAAN dan PIKIRAN yang mendominasi JIWA lebih dari proporsinyalah, yang membuat kita TERJERUMUS ke dalam pilihan yang buruk, yang jauh dari kebaikan, yang dipastikan akan menjadi sebab bagi penyesalan kita di kemudian hari. Penyesalan yang terjadi karena KEGAGALAN KEMANUSIAAN yang meng-gagal-total- kan kebaikan. Kita akan menyebut hal ini sebagai keputusan dan tindakan yang TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN.

Dari itu sahabat yang baik, apa yang perlu kita lakukan adalah terus belajar di dalam kebaikan, dengan terus berlatih guna menguatkan KEKUATAN MEMILIH, agar perasaan dan pikiran tetap menjadi "alat" kita dan tidak sebaliknya malah "memperalat" kita yang sebenarnya sedang menuju kepada cita-cita kebaikan.

MELATIH KEKUATAN MEMILIH

Demi ekologisnya PILIHAN keputusan dan tindakan kita saat ini, dan demi ekologisnya semua itu dengan masa depan, maka kita perlu berhati-hati menetapkan PILIHAN keputusan dan PILIHAN tindakan. Agar kita sebagai manusia yang baik-baik, tidak TERJATUH atau TERJERUMUS dan kemudian terlepas dari kebaikan kemanusiaan.

Sahabat, "ekologis" itu mudahnya adalah, "tetap melekat pada kebaikan dan terus membawa kebaikan, kapanpun dan dimanapun."

Mari kita sama-sama belajar dan berlatih.

Sahabat, perhatikanlah daftar berikut ini dan jika perlu tambahkanlah sendiri daftar ini sesuai dengan kondisi dan keadaan sahabat, apapun kondisi dari PERASAAN dan PIKIRAN sahabat saat ini.

01. TAQWA versus FUJUR
02. BENAR versus SALAH
03. PAHALA versus DOSA
04. BERMORAL versus AMORAL
05. BAIK versus BURUK
06. PINTAR versus BODOH
07. SMART versus STUPID
08. CANTIK versus TIDAK CANTIK (bukan tentang fisik)
09. COOL versus NOT COOL
10. KEREN ABIEZ versus NORAK ABIS
11. GUE BANGET versus BUKAN GUE BANGET (di dalam kebaikan)
12. AMAN versus TIDAK AMAN (bagi kebaikan)
13. MEMULUSKAN versus MENGHAMBAT (proses menuju kebaikan)
14. NYAMAN versus TIDAK NYAMAN (untuk kebaikan diri sendiri)
15. BERANI (karena benar) versus TAKUT (karena salah)
16. HIDUP versus MATI
17. BERSYUKUR versus TIDAK BERSYUKUR
18. SABAR versus AMARAH
19. ENAK versus MEMUAKKAN
20. BIJAK versus TIDAK BIJAK
21. CINTA versus BENCI
22. ADIL versus DZALIM
23. KAYA versus MISKIN (bicara akibat)
24. KEBAHAGIAAN versus PENDERITAAN (bicara akibat)
25. KETERATURAN versus KEKACAUAN
26. MENANG versus KALAH
27. SELESAI versus TAMBAH RUNYAM
28. Dan seterusnya... (tambahkan sendiri)

Sahabat bisa menambahkan pasangan-pasangan kontras sebanyak yang sahabat mau, sesuai yang bisa sahabat PIKIRKAN dan RASAKAN saat ini. Semakin sahabat menambahkannya, semakin banyak pintu-pintu kebaikan yang berpotensi sahabat masuki.

Sahabat, apa yang kita lakukan setiap saat adalah memberi MAKNA, sebab kehidupan adalah tentang MAKNA. Dan kita, baru saja memberi MAKNA bagi berbagai kemungkinan keputusan dan tindakan yang dihadapkan kepada kita setiap saat dan setiap hari.

MAKNA-MAKNA itu, akan kita jadikan LABEL alias penanda bagi berbagai kemungkinan sebagai calon PILIHAN. LABEL-LABEL itu, adalah PINTU-PINTU menuju kepada kebaikan.

Pasangan LABEL itu secara sengaja dan khusus saling kita hadapkan sebagai dua kutub yang bertentangan. Di dalam teknik persuasi, upaya ini disebut dengan "the power of contrast".

Ingatlah sahabat, bahwa ketika kita me-LABEL-kan sebuah makna, maka LABEL itu melekat pada berbagai kemungkinan dan BUKAN pada DIRI KITA. LABEL-LABEL itu mewakili karakteristik, sifat, dan potensi dari berbagai PILIHAN kita nantinya.

Ketika kita berhadapan dengan berbagai kemungkinan keputusan dan tindakan kehidupan, tahan dirilah sejenak untuk tidak langsung menetapkan PILIHAN KEPUTUSAN atau bahkan langsung melakukan apa yang menjadi PILIHAN TINDAKAN. Tuailah manfaat terbesar dari kesabaran, yaitu KEKUATAN UNTUK MEMILIH. Dan inilah yang perlu sahabat lakukan di saat JEDA itu.

Pertama, urutkanlah ulang semua koleksi LABEL di atas.

Ketika sahabat melakukannya, jangan lupa untuk MENGAMBIL angka nol (0) yang berada di depan semua angka di atas. Angka nol itu tidak kita buang, melainkan kita tanamkan kepada diri kita, bahwa itu adalah sebuah SIMBOL bagi jiwa kita yang baik, bahwa kita sedang dengan sengaja berdiri di titik nol, alias di titik NETRAL. Dengan tidak lagi mengandung angka "nol" di depannya, hasil pengurutan ulang yang sahabat lakukan, akan sangat mencerminkan tingkat kepentingannya bagi sahabat sendiri.

Mengurutkan ulang ini bisa kita lakukan dengan merasakan pengaruh terbesar dari pasangan LABEL terhadap perasaan dan pikiran kita. Misalnya saja, kita sangat benci disebut "BODOH" maka tentunya kita akan sangat senang disebut "PINTAR". Pada hari-hari yang lain, kita mungkin lebih senang disebut "ADIL" dan sangat tidak senang disebut "DZALIM". Ini sangat tergantung pada mood, atau kondisi perasaan dan pikiran kita pada suatu saat.

Apa yang biasanya terjadi, adalah otomatisnya kita melekatkan berbagai LABEL itu ke diri kita sendiri. Jika orang lain yang melakukannya, maka kita cenderung meng-ya-kannya. Maka kita bisa memaklumi, bahwa akibatnyapun akan sangat mungkin menjadi keputusan dan tindakan yang juga otomatis, yang justru menjatuhkan atau menjerumuskan.

Itulah keadaan di mana kita sedang "diperalat" oleh pikiran dan perasaan kita sendiri. Salah satu ciri dari kondisi "diperalat", adalah ketika kita berada dalam situasi "miskin pilihan pasangan LABEL". Misalnya, ketika kita melihat suatu persoalan hanya sebagai "MENANG versus KALAH". Padahal, belum tentu bahwa "MENANG versus KALAH" adalah di puncak peringkat.

Menjalani proses jeda dan mengurutkan ulang ini, adalah upaya awal bagi kita untuk menggeser semua LABEL agar tidak lagi "memperalat" melainkan menjadi "alat" yang bisa kita gunakan untuk mengelola PILIHAN-PILIHAN.

Mengurutkan ulang ini, juga bisa dilakukan dengan menjawab pertanyaan, "Apa yang paling penting buat saya saat ini?" - Apapun jawaban yang sahabat dapatkan, selalulah menjadikannya sebagai pasangan LABEL yang saling bertentangan. Misalnya, jika yang paling penting bagi sahabat pada suatu saat adalah "SELESAINYA MASALAH", maka pasangan kontrasnya adalah "MASALAH TAMBAH RUNYAM".

Sahabat, apapun hasil dari mengurutkan ulang di atas, adalah cerminan dari kondisi dan situasi diri sahabat pada saat itu. Dan manapun pasangan LABEL yang berada di puncak peringkat, hanya berarti satu, yaitu bahwa sahabat sedang berada di puncak performa sebagai pribadi yang sesungguhnya baik.

Maka sahabat, mengurutkan ulang semua pasangan LABEL sebagaimana di atas, adalah upaya mengakomodasi perasaan dan sekaligus pikiran dengan tetap berada di dalam kerangka kebaikan.

Kedua, ambillah satu pasangan LABEL yang sedang berada di puncak peringkat. Misalnya "BAIK versus BURUK". Mulai dari sini, konsistenlah HANYA dengan pasangan LABEL ini saja (lihat note di bagian bawah ini).

Ketiga, bersiaplah untuk melekatkan pasangan LABEL itu kepada kemungkinan- kemungkinan keputusan dan tindakan yang sedang sahabat hadapi. Tapi, tunda dulu proses ini.

Keempat, PILIHLAH SATU LABEL untuk MEMAKNAI setiap kemungkinan keputusan dan tindakan yang kita hadapi.

Kemudian, mulailah sahabat melakukan LABELLING. Misalnya, "kemungkinan A" berlabel "BAIK", "kemungkinan B" berlabel "BAIK", "kemungkinan C" berlabel "BURUK" dan seterusnya.

Di awal proses, kemungkinan keputusan dan tindakan itu mungkin saja lebih dari dua, atau bahkan banyak. Akan tetapi, lekatilah dengan HANYA salah satu dari dua PILIHAN LABEL MAKNA di puncak peringkat. Jangan gunakan LABEL dari pasangan LABEL di peringkat yang lain, sebab itu akan memicu "konflik internal" di dalam perasaan dan pikiran sahabat.

Sejalan dengan waktu, sahabat akan menemukan bahwa setiap masalah sebenarnya hanya akan bermuara pada dua ujung yang sifat, karakter, dan potensinya bertolak belakang.

Kelima, simpulkan.

Kini sahabat memiliki cara yang lebih mudah dan lebih bijak untuk menetapkan PILIHAN keputusan dan PILIHAN tindakan, sehingga Insya Allah keputusan dan tindakan sahabat memang bisa sahabat yakini mengarah kepada tujuan kebaikan.

Note: Dalam hal terjadi keseimbangan hasil di antara dua LABEL kontras, barulah sahabat bisa bergeser ke pasangan LABEL di peringkat berikutnya. "Tata tertib" ini memang diperlukan agar tidak memicu "konflik internal" sebagaimana diungkapkan di atas.

Peringkat dari pasangan-pasangan LABEL itu juga akan berubah-ubah urutannya, tergantung pada situasi dan keadaan pikiran dan perasaan sahabat di setiap saat. Peringkat hari ini mungkin akan berbeda dengan peringkat besok. Apa yang penting, adalah sahabat selalu mempunyai pasangan kontras, di mana yang satu menuju kepada cita-cita kebaikan dan satu lagi sebaliknya.

Semoga, kita semua bisa lebih banyak berlatih dan belajar setiap hari, ketika kita dihadapkan pada berbagai PILIHAN kemungkinan dari keputusan dan tindakan di dalam hidup yang menuju kepada kebaikan. Sehingga, apapun LABEL yang sedang kita lekatkan kepada berbagai kemungkinan itu secara obyektif, sahabat tetap berdiri sebagai pribadi yang secara subyektif baik.

Semoga sahabat semua menjadi lebih mudah menemukan cara yang memuluskan jalan menuju kepada cita-cita kebaikan. Aamiin. Aamiin.

O ya sahabat, bukankah semua pelajaran di atas sesungguhnya adalah tentang MELATIH HATI NURANI?


Salam sukses,


Junaedi

=======================================

Ikhwan Sopa : Master Trainer E.D.A.N. - http://www.motivasi-komunikasi- leadership. co.cc


Melatih Kekuatan Memilih

"Trouble is a friend." - Lenka

Sahabat, setiap kita saat ini adalah hasil dari keputusan dan tindakan kita di masa lalu. Tindakan dan keputusan kita bertahun yang lalu, punya peran membentuk diri kita saat ini. Keputusan dan tindakan kita kemarin, telah menjadikan kita sebagaimana kita yang hari ini.

Maka sahabat, setiap keputusan dan tindakan kita hari ini, akan menentukan bagaimana kita di masa depan. Jika kita menginginkan kebaikan terjadi pada diri kita di hari esok, maka segala keputusan dan tindakan kita hari ini, juga harus menjadi keputusan dan tindakan yang baik-baik.

Keputusan dan tindakan yang baik, adalah keputusan dan tindakan yang sangat jelas memberi sinyal tentang arah di dalam rute yang benar menuju kepada kebaikan kita di masa depan. Keputusan dan tindakan yang baik adalah bukan yang berbelok arah, dan bukan pula yang berbalik arah dari rute itu.

Kita sering sekali merasakan kesulitan untuk meyakini tingkat kebaikan yang tepat terkait dengan keputusan yang kita ambil dan tindakan yang kita lakukan.

"Apakah keputusan yang saya ambil ini sudah baik dan tepat?"
"Apakah tindakan yang akan saya lakukan ini sudah baik dan tepat?"

Perasaan seperti itu bisa berakibat buruk pada kestabilan diri dan menciptakan keraguan serta kegamangan. Akibatnya, perjalanan kita menuju kepada kebaikan akan kita rasakan sebagai langkah-langkah yang terseok dan rapuh. Diri, pikiran, dan perasaan kita juga akan menjadi lebih rapuh, menjadi lebih rentan di hadapan badai kehidupan.

Itu sebabnya sahabat, kita memerlukan keyakinan yang lebih kuat di dalam mengambil keputusan dan melakukan tindakan. Hanya dengan ini, maka mata dan hati kita juga hanya akan tertuju ke depan. Dan tentunya, keadaan ini akan membuat kita bisa memudahkan jalan menuju kepada kebaikan yang kita cita-citakan.

Keyakinan, sering kita anggap sebagai sesuatu yang sulit kita capai tingkatan idealnya. Ini ada benarnya, sebab keyakinan adalah tiang penyangga yang kekuatannya tidak datang begitu saja. Kekuatan keyakinan, adalah kekuatan yang harus kita bangun setiap saat, setiap hari.

"Apakah keputusan yang saya ambil ini sudah baik dan tepat?"
"Apakah tindakan yang akan saya lakukan ini sudah baik dan tepat?"

adalah

"Apakah saya yakin bahwa keputusan yang saya ambil ini sudah baik dan tepat?"
"Apakah saya yakin tindakan yang akan saya lakukan ini sudah baik dan tepat?"

Dan sungguh sahabat, Tuhan begitu menyayangi kita dengan menganugerahkan sebuah kemampuan yang memang sesuai dengan kesanggupan setiap manusia. Dengan kemampuan itu, setiap kita telah diciptakan untuk mampu membangun keyakinan. Kemampuan itu, adalah kemampuan untuk MEMILIH.

HAL TERPENTING DI BALIK SETIAP KEPUTUSAN DAN TINDAKAN

Hal terpenting di balik setiap keputusan dan tindakan, adalah PILIHAN. Dengan kata lain, setiap keputusan dan tindakan adalah identik dengan PILIHAN. Dan kita sama mengetahui, bahwa setiap penyimpangan, kemunduran, atau terhentinya perjalanan menuju kepada kebaikan, hanya disebabkan oleh kegagalan dalam mengambil keputusan dan dalam melakukan tindakan. Maka sesungguhnya, kegagalan itu adalah kegagalan di dalam menetapkan PILIHAN.

Dengan kata lain sahabat, berhasil atau tidaknya kita mencapai tujuan dan cita-cita kebaikan, adalah ditentukan oleh besarnya kekuatan dari PILIHAN yang kita tetapkan.

PILIHAN itu sendiri adalah fenomena obyektif yang dihamparkan di hadapan kita setiap saat, setiap waktu. Dengan obyektifitasnya itu, maka PILIHAN adalah sesuatu yang netral dan apa adanya. Dalam pada itu, segala pilihan kebaikan yang kita tetapkan sebagai tujuan di dalam kehidupan, adalah sesuatu yang amat subyektif sifatnya, di mana untuk menuju kepada kebaikan ada begitu banyak pintu-pintu kebaikan. Apa yang perlu kita tempuh dengan demikian, adalah menjadikan diri kita sebagai pribadi-pribadi yang mempunyai kekuatan di dalam MEMILIH.

BERDIRI ATAU JATUH DI HADAPAN PILIHAN

Setiap kali kita dihadapkan pada PILIHAN, maka pada ketika itu SESUNGGUHNYALAH fungsi kemanusiaan kita sedang berada di titik PUNCAKNYA. Ketika kita berada di tengah masalah, kita berada di tengah hutan rimba PILIHAN. Segala hal yang berkecamuk di dalam pikiran dan perasaan kita, adalah hamburan-hamburan PILIHAN. Ketika itulah, kekuatan kita di dalam menetapkan PILIHAN menjadi sangat berperan.

Pada ketika itu, inilah yang berlangsung dan terjadi pada diri kita sebagai normalnya manusia:

1. Kita sebenarnya TEGAK BERDIRI sebagai manusia dengan keaktifan PERASAAN di titik puncak.

2. Kita sebenarnya TEGAK BERDIRI sebagai manusia dengan keaktifan PIKIRAN di titik puncak.

Hanya PERASAAN yang mendominasi lebih dari proporsinyalah, yang membuat kita TERJATUH ke dalam PILIHAN yang impulsif, kompulsif, atau obsesif, yang akan menjadi sebab bagi penyesalan kita di kemudian hari. Penyesalan yang terjadi karena gagalnya upaya untuk tetap mengarah kepada kebaikan. Penyesalan yang terjadi akibat pengambilan keputusan yang berujung pada tindakan yang justru mensabotase kebaikan. Kita sering menyebut hal ini sebagai keputusan dan tindakan yang kurang menggunakan AKAL SEHAT.

Hanya PIKIRAN yang mendominasi lebih dari proporsinyalah, yang membuat kita TERJATUH ke dalam PILIHAN yang rigid alias kaku dan berdarah dingin, yang juga akan menjadi sebab bagi penyesalan kita di kemudian hari. Penyesalan yang juga terjadi karena gagalnya upaya untuk tetap mengarah kepada kebaikan. Penyesalan yang terjadi akibat pengambilan keputusan yang berujung pada tindakan yang justru juga mensabotase kebaikan. Kita sering menyebut hal ini sebagai keputusan dan tindakan yang KURANG BERPERASAAN.

Lebih dari itu sahabat, hanya PERASAAN dan PIKIRAN yang mendominasi JIWA lebih dari proporsinyalah, yang membuat kita TERJERUMUS ke dalam pilihan yang buruk, yang jauh dari kebaikan, yang dipastikan akan menjadi sebab bagi penyesalan kita di kemudian hari. Penyesalan yang terjadi karena KEGAGALAN KEMANUSIAAN yang meng-gagal-total- kan kebaikan. Kita akan menyebut hal ini sebagai keputusan dan tindakan yang TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN.

Dari itu sahabat yang baik, apa yang perlu kita lakukan adalah terus belajar di dalam kebaikan, dengan terus berlatih guna menguatkan KEKUATAN MEMILIH, agar perasaan dan pikiran tetap menjadi "alat" kita dan tidak sebaliknya malah "memperalat" kita yang sebenarnya sedang menuju kepada cita-cita kebaikan.

MELATIH KEKUATAN MEMILIH

Demi ekologisnya PILIHAN keputusan dan tindakan kita saat ini, dan demi ekologisnya semua itu dengan masa depan, maka kita perlu berhati-hati menetapkan PILIHAN keputusan dan PILIHAN tindakan. Agar kita sebagai manusia yang baik-baik, tidak TERJATUH atau TERJERUMUS dan kemudian terlepas dari kebaikan kemanusiaan.

Sahabat, "ekologis" itu mudahnya adalah, "tetap melekat pada kebaikan dan terus membawa kebaikan, kapanpun dan dimanapun."

Mari kita sama-sama belajar dan berlatih.

Sahabat, perhatikanlah daftar berikut ini dan jika perlu tambahkanlah sendiri daftar ini sesuai dengan kondisi dan keadaan sahabat, apapun kondisi dari PERASAAN dan PIKIRAN sahabat saat ini.

01. TAQWA versus FUJUR
02. BENAR versus SALAH
03. PAHALA versus DOSA
04. BERMORAL versus AMORAL
05. BAIK versus BURUK
06. PINTAR versus BODOH
07. SMART versus STUPID
08. CANTIK versus TIDAK CANTIK (bukan tentang fisik)
09. COOL versus NOT COOL
10. KEREN ABIEZ versus NORAK ABIS
11. GUE BANGET versus BUKAN GUE BANGET (di dalam kebaikan)
12. AMAN versus TIDAK AMAN (bagi kebaikan)
13. MEMULUSKAN versus MENGHAMBAT (proses menuju kebaikan)
14. NYAMAN versus TIDAK NYAMAN (untuk kebaikan diri sendiri)
15. BERANI (karena benar) versus TAKUT (karena salah)
16. HIDUP versus MATI
17. BERSYUKUR versus TIDAK BERSYUKUR
18. SABAR versus AMARAH
19. ENAK versus MEMUAKKAN
20. BIJAK versus TIDAK BIJAK
21. CINTA versus BENCI
22. ADIL versus DZALIM
23. KAYA versus MISKIN (bicara akibat)
24. KEBAHAGIAAN versus PENDERITAAN (bicara akibat)
25. KETERATURAN versus KEKACAUAN
26. MENANG versus KALAH
27. SELESAI versus TAMBAH RUNYAM
28. Dan seterusnya... (tambahkan sendiri)

Sahabat bisa menambahkan pasangan-pasangan kontras sebanyak yang sahabat mau, sesuai yang bisa sahabat PIKIRKAN dan RASAKAN saat ini. Semakin sahabat menambahkannya, semakin banyak pintu-pintu kebaikan yang berpotensi sahabat masuki.

Sahabat, apa yang kita lakukan setiap saat adalah memberi MAKNA, sebab kehidupan adalah tentang MAKNA. Dan kita, baru saja memberi MAKNA bagi berbagai kemungkinan keputusan dan tindakan yang dihadapkan kepada kita setiap saat dan setiap hari.

MAKNA-MAKNA itu, akan kita jadikan LABEL alias penanda bagi berbagai kemungkinan sebagai calon PILIHAN. LABEL-LABEL itu, adalah PINTU-PINTU menuju kepada kebaikan.

Pasangan LABEL itu secara sengaja dan khusus saling kita hadapkan sebagai dua kutub yang bertentangan. Di dalam teknik persuasi, upaya ini disebut dengan "the power of contrast".

Ingatlah sahabat, bahwa ketika kita me-LABEL-kan sebuah makna, maka LABEL itu melekat pada berbagai kemungkinan dan BUKAN pada DIRI KITA. LABEL-LABEL itu mewakili karakteristik, sifat, dan potensi dari berbagai PILIHAN kita nantinya.

Ketika kita berhadapan dengan berbagai kemungkinan keputusan dan tindakan kehidupan, tahan dirilah sejenak untuk tidak langsung menetapkan PILIHAN KEPUTUSAN atau bahkan langsung melakukan apa yang menjadi PILIHAN TINDAKAN. Tuailah manfaat terbesar dari kesabaran, yaitu KEKUATAN UNTUK MEMILIH. Dan inilah yang perlu sahabat lakukan di saat JEDA itu.

Pertama, urutkanlah ulang semua koleksi LABEL di atas.

Ketika sahabat melakukannya, jangan lupa untuk MENGAMBIL angka nol (0) yang berada di depan semua angka di atas. Angka nol itu tidak kita buang, melainkan kita tanamkan kepada diri kita, bahwa itu adalah sebuah SIMBOL bagi jiwa kita yang baik, bahwa kita sedang dengan sengaja berdiri di titik nol, alias di titik NETRAL. Dengan tidak lagi mengandung angka "nol" di depannya, hasil pengurutan ulang yang sahabat lakukan, akan sangat mencerminkan tingkat kepentingannya bagi sahabat sendiri.

Mengurutkan ulang ini bisa kita lakukan dengan merasakan pengaruh terbesar dari pasangan LABEL terhadap perasaan dan pikiran kita. Misalnya saja, kita sangat benci disebut "BODOH" maka tentunya kita akan sangat senang disebut "PINTAR". Pada hari-hari yang lain, kita mungkin lebih senang disebut "ADIL" dan sangat tidak senang disebut "DZALIM". Ini sangat tergantung pada mood, atau kondisi perasaan dan pikiran kita pada suatu saat.

Apa yang biasanya terjadi, adalah otomatisnya kita melekatkan berbagai LABEL itu ke diri kita sendiri. Jika orang lain yang melakukannya, maka kita cenderung meng-ya-kannya. Maka kita bisa memaklumi, bahwa akibatnyapun akan sangat mungkin menjadi keputusan dan tindakan yang juga otomatis, yang justru menjatuhkan atau menjerumuskan.

Itulah keadaan di mana kita sedang "diperalat" oleh pikiran dan perasaan kita sendiri. Salah satu ciri dari kondisi "diperalat", adalah ketika kita berada dalam situasi "miskin pilihan pasangan LABEL". Misalnya, ketika kita melihat suatu persoalan hanya sebagai "MENANG versus KALAH". Padahal, belum tentu bahwa "MENANG versus KALAH" adalah di puncak peringkat.

Menjalani proses jeda dan mengurutkan ulang ini, adalah upaya awal bagi kita untuk menggeser semua LABEL agar tidak lagi "memperalat" melainkan menjadi "alat" yang bisa kita gunakan untuk mengelola PILIHAN-PILIHAN.

Mengurutkan ulang ini, juga bisa dilakukan dengan menjawab pertanyaan, "Apa yang paling penting buat saya saat ini?" - Apapun jawaban yang sahabat dapatkan, selalulah menjadikannya sebagai pasangan LABEL yang saling bertentangan. Misalnya, jika yang paling penting bagi sahabat pada suatu saat adalah "SELESAINYA MASALAH", maka pasangan kontrasnya adalah "MASALAH TAMBAH RUNYAM".

Sahabat, apapun hasil dari mengurutkan ulang di atas, adalah cerminan dari kondisi dan situasi diri sahabat pada saat itu. Dan manapun pasangan LABEL yang berada di puncak peringkat, hanya berarti satu, yaitu bahwa sahabat sedang berada di puncak performa sebagai pribadi yang sesungguhnya baik.

Maka sahabat, mengurutkan ulang semua pasangan LABEL sebagaimana di atas, adalah upaya mengakomodasi perasaan dan sekaligus pikiran dengan tetap berada di dalam kerangka kebaikan.

Kedua, ambillah satu pasangan LABEL yang sedang berada di puncak peringkat. Misalnya "BAIK versus BURUK". Mulai dari sini, konsistenlah HANYA dengan pasangan LABEL ini saja (lihat note di bagian bawah ini).

Ketiga, bersiaplah untuk melekatkan pasangan LABEL itu kepada kemungkinan- kemungkinan keputusan dan tindakan yang sedang sahabat hadapi. Tapi, tunda dulu proses ini.

Keempat, PILIHLAH SATU LABEL untuk MEMAKNAI setiap kemungkinan keputusan dan tindakan yang kita hadapi.

Kemudian, mulailah sahabat melakukan LABELLING. Misalnya, "kemungkinan A" berlabel "BAIK", "kemungkinan B" berlabel "BAIK", "kemungkinan C" berlabel "BURUK" dan seterusnya.

Di awal proses, kemungkinan keputusan dan tindakan itu mungkin saja lebih dari dua, atau bahkan banyak. Akan tetapi, lekatilah dengan HANYA salah satu dari dua PILIHAN LABEL MAKNA di puncak peringkat. Jangan gunakan LABEL dari pasangan LABEL di peringkat yang lain, sebab itu akan memicu "konflik internal" di dalam perasaan dan pikiran sahabat.

Sejalan dengan waktu, sahabat akan menemukan bahwa setiap masalah sebenarnya hanya akan bermuara pada dua ujung yang sifat, karakter, dan potensinya bertolak belakang.

Kelima, simpulkan.

Kini sahabat memiliki cara yang lebih mudah dan lebih bijak untuk menetapkan PILIHAN keputusan dan PILIHAN tindakan, sehingga Insya Allah keputusan dan tindakan sahabat memang bisa sahabat yakini mengarah kepada tujuan kebaikan.

Note: Dalam hal terjadi keseimbangan hasil di antara dua LABEL kontras, barulah sahabat bisa bergeser ke pasangan LABEL di peringkat berikutnya. "Tata tertib" ini memang diperlukan agar tidak memicu "konflik internal" sebagaimana diungkapkan di atas.

Peringkat dari pasangan-pasangan LABEL itu juga akan berubah-ubah urutannya, tergantung pada situasi dan keadaan pikiran dan perasaan sahabat di setiap saat. Peringkat hari ini mungkin akan berbeda dengan peringkat besok. Apa yang penting, adalah sahabat selalu mempunyai pasangan kontras, di mana yang satu menuju kepada cita-cita kebaikan dan satu lagi sebaliknya.

Semoga, kita semua bisa lebih banyak berlatih dan belajar setiap hari, ketika kita dihadapkan pada berbagai PILIHAN kemungkinan dari keputusan dan tindakan di dalam hidup yang menuju kepada kebaikan. Sehingga, apapun LABEL yang sedang kita lekatkan kepada berbagai kemungkinan itu secara obyektif, sahabat tetap berdiri sebagai pribadi yang secara subyektif baik.

Semoga sahabat semua menjadi lebih mudah menemukan cara yang memuluskan jalan menuju kepada cita-cita kebaikan. Aamiin. Aamiin.

O ya sahabat, bukankah semua pelajaran di atas sesungguhnya adalah tentang MELATIH HATI NURANI?


Salam sukses,


Junaedi

=======================================

Ikhwan Sopa : Master Trainer E.D.A.N. - http://www.motivasi-komunikasi- leadership. co.cc


Tuesday, 9 March 2010

Entrepreneur: Meraih Kemenangan di Tengah Cibiran Alam Semesta

Entrepreneur: Meraih Kemenangan di Tengah Cibiran Alam Semesta

Oleh: JOI Ihalauw
Staf Pengajar UPH Business School


Judul ini adalah secuil pesan Claude Hopkins kepada anaknya, yang menggambarkan perjalanannya menjadi seorang sukses. Seorang entrepreneur berani bertindak berbeda, kokoh dalam keyakinan saat melihat peluang, bahkan jika harus melawan arus sekalipun.

Media membeberkan fakta jumlah entrepreneur di Indonesia hanya 400.000 dari jumlah kebutuhan 4,4 juta orang. Kita tersentak. Kalau saja bisa mencapai 2% dari jumlah penduduk, Indonesia pasti lebih maju. Amerika Serikat memiliki entrepreneur 11% dari jumlah penduduknya.

Kao (John J. Kao) menunjukan empat komponen saat menelisik fenomena kewirausahaan: insan kreatif yaitu entrepreneur, tugas kreatif, konteks organisasi, dan tantangan lingkungan sekitar. Tulisan ini hanya sekelumit tentang insan kreatif, yaitu bagaimana meningkatkan kemampuan berpikir strategis seorang entrepreneur pemula.

Harus diakui, tindakan terencana dan serius untuk membentuk entrepreneur pemula Indonesia baru tampak dalam satu dekade terakhir. Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakan program studi kewirausahaan. Bank-bank ikut berkiprah melalui progran CSR. Semisal Bank Mandiri, yang telah mendidik 9.900 mahasiswa untuk menjadi entrepreneur, tapi 3.000 saja yang lolos tempaan.

Kao mengatakan, konsep entrepreneurship berarti tindakan cipta-nilai melaui pengenalan peluang-peluang bisnis, pengelolaan kesediaan memikul resiko sepadan dengan peluang itu, serta mahir komunikasi dan manajemen pengerahan sumber daya manusia, finansial, dan material yang diperlukan, sehingga proyek yang dikerjakan membuahkan hasil.

Kao memberi penekakanan pada kemampuan mencipta nilai. Jika nilai untuk pelanggan dipahami sebagai perbandingan atara manfaat dengan biaya, maka sejak dini, entrepreneur harus tahu bahwa manfaat selalu berubah, sebab keinginan (manfaat yang dicari) pembeli di pasar pun dinamis. Jadi, entrepreneur harus cerdik menyikapi kecenderungan keinginan dan mampu mencipta manfaat baru untuk ditawarkan ke pasar.

Berkiprah sebagai entrepreneur mengharuskan ia untuk selalu berpijak pada realitas, menginderai kesenjangan antara manfaat dicari (keinginan) dan manfaat aktual (dalam produk) yang ditawarkan ke pasar. Boleh jadi kesenjangan antara manfaat yang dicari dengan manfaat aktual itu pada awalnya secercah peluang saja. Waktu jualah yang menjawab apakah kelak secercah peluang itu sesungguhnya sesuatu yang besar dan menguntungkan.

Mejalani waktu inilah yang sering membimbangkan entrepreneur pemula. Keraguannya diperbesar oleh rasa takut rugi, tidak punya cukup modal untuk bisa bertahan lebih lama, usia beranjak naik sedangkan hasil belum kelihatan, tidak berpengalaman, dan persaingan ketat. Ada juga mitos bahwa kelompok etnis tertentu saja yang bisa menjadi entrepreneur.

Sejatinya untuk menjadi entrepreneur, seseorang harus bertindah, bertindak, dan terus bertindak untuk menciptakan nilai! Hal ini dikukuhkan oleh hasil penelitian Shefsky pada 1994 terhadap 200 entrepreneur, sehingga ia menyimpulkan: entrepreneur are made, not born!

Kemampuan berpikir strategis adalah salah satu modal entrepreneur pemula. Ohmae (Kenichi Ohmae) menunjukan 3R penting dari seni pikir strategik: Pertama, Reality; entrepreneur harus membiasakan menjelajah lanskap abad ke-21, mengamati kenyataan dan kecendurangan pasar, industri dan lingkungan makro. Mereka perlu peka terhadap tantangan dari perubahan yang sedang terjadi.

Coba kita simak, Etnis Tionghoa secara budaya terbiasa memandang tantangan atau krisis (wei cie) sebagai ancaman (wei sien) sekaligus peluang (cie hue). Ketika dihadapkan dengan wei cie, secara simultan wei sien dan cie hue. Dunia belum kiamat, ada kesempatan! Ini kemampuan berpikir kreatif memandang setiap ancaman sebagai peluang yang tertunda; memuntir ancaman menjadi peluang baru.

Kedua, Ripeness atau timing, tepat saat dalam mengidentifikasi dan menggarap peluang. Tidah heran jika kita sering mendengar bahwa opportunity never knocks twice, atau "dia hoki banget". Bukan tanpa dasar ketika Ries dan Trout mengatakan bahwa timing adalah Himalaya-nya strategi. Jadi, entrepreneur pemula perlu mengasah diri dalam mengenali dan menggunakan strategic window, yaitu limited periods during which the fit between the requirements oh the firm is at an optimum.

Yang terakhir, Resources. Entrepreneur pemula harus mampu mengerahkan sumberdayanya yang terbatas untuk menciptakan nilai. Sering kita terjebak dalam kebiasaan berpikir bahwa kelimpahan sumberdayalah yang paling penting. Fakta menunjukan, bukan kelimpahan sumberdaya, melainkan racikan unik dari berbagai sumberdaya yang dikuasailah yang terpenting sehingga terbentuk kapabilitas-kapabilitas unik untuk mencipta nilai superior. Bukankah bahan-bahan untuk membuat nasi goreng adalah sama? Tetapi mengapa ada yang laris banget? Kuncinya: Keunikan RACIKAN!


Salam sukses,


Junaedi


Entrepreneur: Meraih Kemenangan di Tengah Cibiran Alam Semesta

Entrepreneur: Meraih Kemenangan di Tengah Cibiran Alam Semesta

Oleh: JOI Ihalauw
Staf Pengajar UPH Business School


Judul ini adalah secuil pesan Claude Hopkins kepada anaknya, yang menggambarkan perjalanannya menjadi seorang sukses. Seorang entrepreneur berani bertindak berbeda, kokoh dalam keyakinan saat melihat peluang, bahkan jika harus melawan arus sekalipun.

Media membeberkan fakta jumlah entrepreneur di Indonesia hanya 400.000 dari jumlah kebutuhan 4,4 juta orang. Kita tersentak. Kalau saja bisa mencapai 2% dari jumlah penduduk, Indonesia pasti lebih maju. Amerika Serikat memiliki entrepreneur 11% dari jumlah penduduknya.

Kao (John J. Kao) menunjukan empat komponen saat menelisik fenomena kewirausahaan: insan kreatif yaitu entrepreneur, tugas kreatif, konteks organisasi, dan tantangan lingkungan sekitar. Tulisan ini hanya sekelumit tentang insan kreatif, yaitu bagaimana meningkatkan kemampuan berpikir strategis seorang entrepreneur pemula.

Harus diakui, tindakan terencana dan serius untuk membentuk entrepreneur pemula Indonesia baru tampak dalam satu dekade terakhir. Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakan program studi kewirausahaan. Bank-bank ikut berkiprah melalui progran CSR. Semisal Bank Mandiri, yang telah mendidik 9.900 mahasiswa untuk menjadi entrepreneur, tapi 3.000 saja yang lolos tempaan.

Kao mengatakan, konsep entrepreneurship berarti tindakan cipta-nilai melaui pengenalan peluang-peluang bisnis, pengelolaan kesediaan memikul resiko sepadan dengan peluang itu, serta mahir komunikasi dan manajemen pengerahan sumber daya manusia, finansial, dan material yang diperlukan, sehingga proyek yang dikerjakan membuahkan hasil.

Kao memberi penekakanan pada kemampuan mencipta nilai. Jika nilai untuk pelanggan dipahami sebagai perbandingan atara manfaat dengan biaya, maka sejak dini, entrepreneur harus tahu bahwa manfaat selalu berubah, sebab keinginan (manfaat yang dicari) pembeli di pasar pun dinamis. Jadi, entrepreneur harus cerdik menyikapi kecenderungan keinginan dan mampu mencipta manfaat baru untuk ditawarkan ke pasar.

Berkiprah sebagai entrepreneur mengharuskan ia untuk selalu berpijak pada realitas, menginderai kesenjangan antara manfaat dicari (keinginan) dan manfaat aktual (dalam produk) yang ditawarkan ke pasar. Boleh jadi kesenjangan antara manfaat yang dicari dengan manfaat aktual itu pada awalnya secercah peluang saja. Waktu jualah yang menjawab apakah kelak secercah peluang itu sesungguhnya sesuatu yang besar dan menguntungkan.

Mejalani waktu inilah yang sering membimbangkan entrepreneur pemula. Keraguannya diperbesar oleh rasa takut rugi, tidak punya cukup modal untuk bisa bertahan lebih lama, usia beranjak naik sedangkan hasil belum kelihatan, tidak berpengalaman, dan persaingan ketat. Ada juga mitos bahwa kelompok etnis tertentu saja yang bisa menjadi entrepreneur.

Sejatinya untuk menjadi entrepreneur, seseorang harus bertindah, bertindak, dan terus bertindak untuk menciptakan nilai! Hal ini dikukuhkan oleh hasil penelitian Shefsky pada 1994 terhadap 200 entrepreneur, sehingga ia menyimpulkan: entrepreneur are made, not born!

Kemampuan berpikir strategis adalah salah satu modal entrepreneur pemula. Ohmae (Kenichi Ohmae) menunjukan 3R penting dari seni pikir strategik: Pertama, Reality; entrepreneur harus membiasakan menjelajah lanskap abad ke-21, mengamati kenyataan dan kecendurangan pasar, industri dan lingkungan makro. Mereka perlu peka terhadap tantangan dari perubahan yang sedang terjadi.

Coba kita simak, Etnis Tionghoa secara budaya terbiasa memandang tantangan atau krisis (wei cie) sebagai ancaman (wei sien) sekaligus peluang (cie hue). Ketika dihadapkan dengan wei cie, secara simultan wei sien dan cie hue. Dunia belum kiamat, ada kesempatan! Ini kemampuan berpikir kreatif memandang setiap ancaman sebagai peluang yang tertunda; memuntir ancaman menjadi peluang baru.

Kedua, Ripeness atau timing, tepat saat dalam mengidentifikasi dan menggarap peluang. Tidah heran jika kita sering mendengar bahwa opportunity never knocks twice, atau "dia hoki banget". Bukan tanpa dasar ketika Ries dan Trout mengatakan bahwa timing adalah Himalaya-nya strategi. Jadi, entrepreneur pemula perlu mengasah diri dalam mengenali dan menggunakan strategic window, yaitu limited periods during which the fit between the requirements oh the firm is at an optimum.

Yang terakhir, Resources. Entrepreneur pemula harus mampu mengerahkan sumberdayanya yang terbatas untuk menciptakan nilai. Sering kita terjebak dalam kebiasaan berpikir bahwa kelimpahan sumberdayalah yang paling penting. Fakta menunjukan, bukan kelimpahan sumberdaya, melainkan racikan unik dari berbagai sumberdaya yang dikuasailah yang terpenting sehingga terbentuk kapabilitas-kapabilitas unik untuk mencipta nilai superior. Bukankah bahan-bahan untuk membuat nasi goreng adalah sama? Tetapi mengapa ada yang laris banget? Kuncinya: Keunikan RACIKAN!


Salam sukses,


Junaedi


Tuesday, 16 February 2010

Gran Opening MAXILink, senin 15 Februari 2010

Senin 15 Feb. 2010, hari itu adalah hari "Grand Opening" Loket Pembayaran Listri & Telepon (MAXILink).

Jam baru menunjukan -+10.00 wib tiba-tiba HP berdering setelah saya lihat ternyata dari istri tercinta, antara percaya dan tidak istri berujar dengan suara terbata-bata seolah tdk bisa menyimpan kegembiraan karena usaha yang masih bayi ini didatangi oleh segerombolan ibu-ibu komplek.

Singkat cerita sang istri dengan nada panik meminta saya untuk tambah saldo PLN&Telepon segera karena saldo yg ada sudah menipis. Tidak mau kehilangan pelanggan dan demi kepuasan atas layanan kami tanpa berpikir panjang lebar saya pun langsung beranjak dr tempat duduk menuju ATM untuk segera tranfer. Alhamdulillah persolan telah terselesaikan dan pelanggan pun merasa puas atas layanan kami.

Dengan sedikit promosi (spanduk & poster) alhamdulillah hari pertama kami buka loket pembayaran Listrik & Telepon langsung diserbu oleh ibu-ibu komplek dan masyarakat sekitar. Ini merupakan kebahagiaan tersendiri bagi kami karena usaha yg kami jalankan ini ibarat bayi baru lahir tapi telah ditunggu oleh bapak-bapak dan ibu-ibu. Alhamdulillah ya Allah ternyata perjuangan kami tidak sia-sia dan dibutuhkan oleh orang lain. Semoga kami dapat menjalankan amanah-Mu dan pengguna layanan kami bertambah banyak serta dapat terpuaskan akan layanan kami.

Satu point yang kami dapat adalah "Jika kita berjuang dijalan Allah dan sepenuh hati insaya Allah akan dimudahkan", demikian sharing ini saya sampaikan semoga bermanfaat.


Salam sukses,


Junaedi
081310004288


Gran Opening MAXILink, senin 15 Februari 2010

Senin 15 Feb. 2010, hari itu adalah hari "Grand Opening" Loket Pembayaran Listri & Telepon (MAXILink).

Jam baru menunjukan -+10.00 wib tiba-tiba HP berdering setelah saya lihat ternyata dari istri tercinta, antara percaya dan tidak istri berujar dengan suara terbata-bata seolah tdk bisa menyimpan kegembiraan karena usaha yang masih bayi ini didatangi oleh segerombolan ibu-ibu komplek.

Singkat cerita sang istri dengan nada panik meminta saya untuk tambah saldo PLN&Telepon segera karena saldo yg ada sudah menipis. Tidak mau kehilangan pelanggan dan demi kepuasan atas layanan kami tanpa berpikir panjang lebar saya pun langsung beranjak dr tempat duduk menuju ATM untuk segera tranfer. Alhamdulillah persolan telah terselesaikan dan pelanggan pun merasa puas atas layanan kami.

Dengan sedikit promosi (spanduk & poster) alhamdulillah hari pertama kami buka loket pembayaran Listrik & Telepon langsung diserbu oleh ibu-ibu komplek dan masyarakat sekitar. Ini merupakan kebahagiaan tersendiri bagi kami karena usaha yg kami jalankan ini ibarat bayi baru lahir tapi telah ditunggu oleh bapak-bapak dan ibu-ibu. Alhamdulillah ya Allah ternyata perjuangan kami tidak sia-sia dan dibutuhkan oleh orang lain. Semoga kami dapat menjalankan amanah-Mu dan pengguna layanan kami bertambah banyak serta dapat terpuaskan akan layanan kami.

Satu point yang kami dapat adalah "Jika kita berjuang dijalan Allah dan sepenuh hati insaya Allah akan dimudahkan", demikian sharing ini saya sampaikan semoga bermanfaat.


Salam sukses,


Junaedi
081310004288


Wednesday, 10 February 2010

THE POWER OF KEPEPET

Seandainya sekarang anda tidak memiliki uang tabungan, penghasilan pun kurang dari 1 juta sebulan. Apakah anda bisa mendapatkan uang 10 juta - jam 9 esok hari?" Saat saya menanyakan pertanyaan ini kepada peserta seminar, hampir semua menjawab, Tidak Bisa.

Kenapa?? Karena mereka mengukur kemampuannya berdasarkan kondisi normal mereka. Dengan penghasilan 1 juta perbulan, jika savingnya 200 ribu perbulan, maka butuh 50 bulan untuk mendapatkan 5 juta.

Bagaimana jika pertanyaan saya ubah? Seandainya, malam hari ini, orang yang paling Anda sayangi, mendadak sakit keras. Dokter mendiagnosa ada sebuah tumor ganas yang harus dioperasi esok pagi. Jika tidak, maka (maaf) nyawanya akan melayang. Sedangkan operasi hanya bisa dilaksanakan jika anda menyerahkan uang tunai sejumlah 5 juta rupiah sebelum jam 9 esok hari. Bagaimana? Apakah anda masih akan mengatakan tidak bisa? Mayoritas akan menjawab, "Harus bisa". Kenapa? Karena KEPEPET, jika tidak, nyawa orang yang kita cintai tersebut akan melayang.

Jadi sebenarnya jika dalam kondisi yang terdesak dan tidak diberikan pilihan untuk "tidak bisa", manusia akan mencari jalan untuk berfikir "Bagaimana Harus Bisa". Tetapi kenapa sukses, kaya, membahagiakan orang tua atau keluarga, seolah bukan suatu kebutuhan yang mendesak?

Sesungguhnya manusia telah diciptakan dengan potensi luar biasa, diluar apa yang kita pikirkan. Hanya saja potensi tersebut seringkali hanya akan keluar pada kondisi terdesak, seperti seorang nenek bisa melompat dari gedung setinggi 5 meter, saat kebakaran.

Coba amati biografi orang-orang sukses, banyak dari mereka yang 'kepepet' sebelumnya. Seperti per atau pegas, saat kita tekan, maka akan menimbulkan gaya yang lebih besar. Trus, apa yang harus kita lakukan? Cara Pertama untuk mengeluarkan 'potensi kepepet' kita, adalah dengan cara menvisualisasikan (membayangkan) seolah-olah kita dalam kondisi kepepet, maka kita akan mengfungsikan organ tubuh dan hormon-hormon kita, bekerja secara maksimal. Misalnya, bayangkan jika hari ini anda di PHK, apa yang akan anda lakukan?

Cara kedua, menciptakan kondisi kepepet secara Nyata. Misalnya dengan berhutang untuk modal usaha, secara otomatis akan membuat kita termotivasi untuk mengembalikan hutang. Atau, bisa juga kita terima orderan langsung, meskipun usaha belum mulai. Ada juga yang memberanikan diri membayar DP (uang muka) sewa ruko/ kios, setelah itu terpaksa berfikir bagaimana melunasinya. Jika anda masih single dan tidak punya tanggungan keluarga, mungkin anda mau langsung mencoba keluar kerja dan mulai usaha?! Semua itu pilihan anda lho, jangan salahkan saya untuk resikonya. Tergantung dari karakter masing-masing orang. Saya menempuh cara yang terakhir, cukup konyol, tapi berhasil. Kuncinya: Tetap jaga KREDIBILITAS Anda.

Cara mana yang akan anda pilih, yang penting MELANGKAH, jangan kebanyakan mikir atau sekedar membaca artikel saya ini. Karena kehidupan anda tidak akan berubah hanya dengan mendengar, tapi dengan ACTION.
Seperti kata Rudy Hartono, apa yang membuatnya menjadi juara? Jawabnya: “Every Point is a Game Point.”

FIGHT!


Junaedi
081310004288


Jaya Setiabudi dapat dihubngi di email : masj@fone-mail.com